Metode-Metode Pembelajaran Bahasa Indonesia

Metode Pembelajaran Bahasa Indonesia



Berikut ini metode-metode yang cocok untuk pembelajaran bahasa indonesia

a. Ceramah



Metode ceramah adalah metode yang sangat populer di kalangan para guru. Pada hakikatnya ceramah adalah cara menyampaikan informasi, penjelasan tentang suatu konsep secara lisan. Dalam kegiatan belajarmengajar di kelas, guru menjelaskan secara lisan dan murid mendengarkan penjelasan guru sambil mencatat hal-hal yang penting. Metode ceramah dapat digunakan untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar pada waktu dan kondisi pembelajaran sebagai berikut:
  1. Menjelaskan suatu hal kepada siswa sehingga mereka menyadari pentingnya hal tersebut.
  2. Membangkitkan motivasi siswa untuk mempelajari sesuatu hal.
  3. Jumlah siswa banyak.
  4. Tidak tersedia atau sedikit sumber belajar yang dapat dimanfaatkan oleh siswa.

Salah satu kritik terhadap pemakaian metode ceramah adalah adanya kecenderungan pemusatan kegiatan belajar-mengajar pada guru. Guru yang merupakan sumber informasi yang sangat aktif selama berlangsungnya proses pembelajaran. Sedangkan siswa hanya mendengarkan saja sambil mencatat informasi dari guru. Untuk mengurangi kelemahan ini disarankan agar guru melibatkan siswa selama proses pembelajaran, misalnya dengan memberi kesempatan sebanyak-banyaknya kepada siswa untuk menyampaikan tanggapan, pertanyaan terhadap materi yang diceramahkan oleh guru. Disamping itu, disarankan juga guru menggunakan media pembelajaran untuk mendukung ceramah yang disampaikannya.

b. Diskusi

Diskusi adalah metode pembelajaran yang sangat dianjurkan penggunaannya dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Pembelajaran dengan metode diskusi dapat menciptakan situasi pembelajaran yang memungkinkan para siswa terlibat secara aktif dalam proses belajar-mengajar. Kondisi ini sangat penting dalam proses belajar siswa. Di samping itu, penggunaan metode diskusi memberikan keuntungan dampak pengiring yang berupa kesempatan bagi siswa untuk berlatih menggunakan bahasa Indonesia secara nyata dalam proses komunikasi. Selama berdiskusi mereka berbicara mendengarkan, membaca, dan menulis secara serentak dalam suatu kegiatan yang terpadu.

Dalam konteks pembelajaran bahasa Indonesia, diskusi pada hakikatnya adalah suatu percakapan yang dilaksanakan baik secara klasikal maupun kelompok untuk membahas suatu masalah. Dalam diskusi terjadi pertukaran pikiran, pandangan, pendapat, serta pengetahuan dan pengalaman antara para siswa yang mengarah pada pemecahan masalah. Konsep utama dalam diskusi ini adalah pertukaran, artinya dalam diskusi sangat diutamakan adanya proses saling memberi dan menerima pikiran, pandangan, pendapat, serta pengetahuan dan pengalaman antara peserta diskusi. Oleh karena itu, selama diskusi para siswa harus bisa menjadi pembicara dan pendengar yang baik. Menjadi pembicara yang baik dalam arti para siswa mampu menyampaikan pikiran, pendapat, dan pandangannya dengan jujur dan jelas.

Sedangkan menjadi pendengar yang baik dalam arti siswa bersedia dan mampu mendengarkan dengan sungguh-sungguh apa yang dibicarakan temannya. Metode diskusi digunakan pada waktu kegiatan belajar-mengajar bahasa Indonesia dimaksudkan untuk:
  1. Melatih siswa untuk mengidentifikasi, mengkaji, dan memecahkan suatu masalah.
  2. Melatih siswa memahami dan membahas isi suatu wacana lisan maupun tulis serta memberikan tanggapan terhadapnya, serta
  3. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk berlatih menyusun suatu rencana kegiatan, melaksanakan, dan melaporkan hasilnya bersamasama. 
Diskusi dapat dilaksanakan dalam kegiatan belajar-mengajar secara klasikal dan dapat pula dalam kelompok. Pemilihan jenis yang akan digunakan dalam suatu kegiatan pembelajaran atas topik yang akan didiskusikan serta tujuan diskusi. Secara garis besar pelaksanaan masingmasing jenis diskusi tersebut adalah sebagai berikut.

1) Diskusi kelas
Apabila jumlah siswa dalam suatu kelas cukup besar (lebih dari 20 orang), diskusi kelas dapat dilakasanakan dalam bentuk diskusi panel. Dalam diskusi ini ada beberapa siswa yang bertindak sebagai panelis yang menyampaikan pandangannya kemudian ditanggapi oleh para siswa yang lain. Lalu lintas jalannya diskusi diatur oleh operator yang dapat dijabat oleh guru atau bisa juga oleh seorang siswa. Apabila jumlah siswa terlalu besar, diskusi kelas dapat dilaksanakan dalam bentuk diskusi kelompok sebagai berikut.

2) Diskusi kelompok
Diskusi ini dilaksanakan dalam kelompok-kelompok yang anggotanya tidak terlalu besar (10-20 orang). Apabila dipandang perlu jumlah anggota kelompok itu bisa diperkecil lagi, misalnya 5-7 orang. Diskusi kelompok ini dipimpin oleh seorang ketua kelompok yang bertindak sebagai moderator dibantu oleh seorang pencatat (notulis). Setiap anggota kelompok berpartisipasi secara aktif dalam diskusi. Mereka mengemukakan pendapat, gagasan, tanggapan, komentar, dan sebagainya berkaitan dengan topik diskusi. Perumusan hasil diskusi kelompok merupakan tanggung jawab seluruh anggota kelompok yang bersangkutan.

Dalam diskusi kelompok, guru dapat bertindak sebagai resource yang memberikan masukan, penjelasan tentang sesuatu yang berkaitan dengan topik diskusi, dan sebagainya.
Berikut ini dikemukakan contoh-contoh butir pembelajaran yang sebaiknya diajarkan dengan menggunakan metode diskusi.
  1. Menyusun rencana kegiatan kelas (misalnya olah raga, kesenian)
  2. Menyusun rencana kegiatan wawancara atau kunjungan pengamatan.
  3. Memahami dan menanggapi isi bacaan.
  4. Membaca puisi dan membicarakan cara pengungkapannya dari segi keindahan, keharuan, dan sebagainya.
  5. Membaca cerpen atau bagian cerpen dan memberikan tokoh, latar (waktu, tempat, dan budaya) alurnya.

Agar pembelajaran dengan menggunakan metode diskusi dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, perlu diperhatikan beberapa hal berikut.
  1. Para siswa harus memahami topik diskusi yang akan didiskusikan. Untuk itu topik diskusi harus sudah dirumuskan sejelas-jelasnya.
  2. Para siswa harus mengetahui tujuan diskusi. Oleh karena itu, sebelum dilaksanakan diskusi guru menjelaskan tujuan diskusi yang hendak dilaksanakan.
  3. Semua siswa harus terlibat aktif dalam diskusi. Hindarkan adanya monopoli bicara oleh satu atau dua orang siswa saja.
  4. Diskusi harus tetap pada pembahasan topik diskusi. Oleh karena itu, pertanyaan-pertanyaan, sanggahan, dan tanggapan yang tidak relevan dengan topik diskusi tidak perlu dijawab.
  5. Apabila terjadi penyimpangan diskusi, guru perlu meluruskan kembali.


c. Resitasi (Penugasan)
Metode resitasi (penugasan) merupakan salah satu mtode yang selektif dalam pembelajaran bahasa Indonesia berdasarkan kurikulum/GBPP Bahasa Indonesia 1994. Karakteristik resitasi ini sesuai dengan pendekatan komunikatif serta pendekatan integratif dalam kurikulum tersebut.
Resitasi dalam pembelajaran bahasa Indonesia adalah satu metode pembelajaran yang berupa pemberian tugas kepada siswa untuk melakukan suatu kegiatan dalam kerangka pembelajaran bahasa Indonesia. Siswa melaksanakan kegiatan tersebut dan mempetanggungjawabkan hasil pelaksanaan tugasnya.
Tugas-tugasnya antara lain:
  1. Mengadakan pengamatan dan menuliskan laporan hasilnya.
  2. Membuat kliping tentang berbagai artikel yang berkaitan dengan bahasa Indonesia.
  3. Membaca artikel, makalah, buku, dan menuliskan tanggapan terhadap isinya.
  4. Membaca karya sastra (novel, cerpen, puisi, naskah drama) dan menuliskan pembahasannya.
  5. Menulis artikel, esai, kritik, dan sebagainya.
  6. Menulis kreatif (puisi, cerpen, drama)
  7. Menulis berbagai jenis surat.

Langkah-langkah pemakaian metode resitasi.
  1. Menentukan tugas yang akan diberikan kepada siswa berdasarkan butir-butir pembelajaran yang memerlukan kegiatan atau latihan di luar jam-jam pembelajaran di kelas.
  2. Membahas tugas-tugas yang akan dikerjakan oleh siswa bersama mereka.
  3. Membagi-bagi tugas secara kelompok atau individual.
  4. Mengoreksi hasil pekerjaan para siswa.

Imam Syafi’ie, Roekhan, dan Ma’mur Saadie. 2001. Pendekatan Pembelajaran Bahasa Indonesia.Jakarta: Universitas Terbuka

d. Metode Tanya-Jawab

Metode Tanya jawab adalah suatu cara penyajian bahwa pelajaran melelui berbagai pertanyaan yang dijawab oleh siswa. Dalam metode ini memungkinkan adanya komunikasi langsung yang bersifat timbal balik pada saat terjadinya dialog antara siswa dengan guru sehingga yang kurang jelas dapat ditanyakan langsung. Metode ini cukup efektif jika digunakan dalam penyampaian materi pelajaran Bahasa Indonesia karena membuat siswa lebih aktif untuk berfikir atau bertanya materi yang belum jelas. Tetapi apabila guru tidak menguasai metode ini maka banyak siswa yang pasif.

e. Metode simulasi

Metode simulasi merupakan metode mengajar yang dapat digunakan dalam pembelajaran kelompok. Mengajar dengan simulasi objeknya bukan benda atau kegiatan yang sebenarnya, tetapi kegiatan mengajarr yang bersifat pura-pura. Simulasi dapat dilakukan oleh siswa karena kegiatan pembelajarannya menuntut adanya kemampuan siswa dalam berinteraksi dalam kelompok.

Ada beberapa jenls model simulasi diantaranya adalah: bermain peran, sosiodrama, permainan simulasi, dan sebagainya.

Bermain peran merupakan permainan dalam bentuk dramatisasi, sekelompok siswa melaksanakan kegiatan tertentu yang telah diarahkan oleh guru. Simulasi ini lebih menitikberatkan pada tujuan untuk mengingat atau menciptakan kembali gambaran masa silam yang memungkinkan terjadi pada masa yang akan datang atau peristiwa tersebut bermakna bagi kehidupan sekarang.

Sosiodrama adalah suatu kelompok yang belajar memcahkan masalah yang berhubungan dengan masalah individu sebagai makhluk sosial. Misalnya hubungan antara anak terhadap orang tua, antara siswa dengan teman kelompoknya, dan sebagainya.

Permainan simulasi siswa adalah siswa bermain peran sesuai dengan peran yang ditugaskan sebagai pembuat keputusan. Prosedur metode simulasi yang harus ditempuh dalam pembelajaran adalah sebagai berikut:
  1. Menetapkan topik simulasi diarahkan oleh guru.
  2. Menetapkan kelompok dan topik-topik yang akan dibahas.
  3. Melaksanakan simulasi dengan diawali petunjuk dari guru tentang prosedur, teknik, dan peran yang dimainkan.
  4. Proses pengamatan terhadap proses, peran, teknik, dan prosedur dapat dilakukan dengan diskusi.
  5. Kesimpulan dan saran dari kegiatan simulasi. Kemampuan guru yang harus diperhatikan untuk menunjang



f. Metode demonstrasi

Metode demonstrasi merupakan metode mengajar yang menyajikan bahan pelajaran dengan mempertunjukkan secara langsung objeknya atau caranya melakukan sesuatu untuk mempertunjukkan proses tertentu. Demontrasi dapat digunakan pada semua mata pelajaran. Dalam pelaksanaan demontrasi guru harus sudah yakin bahwa seluruh siswa dapat memperhatikan terhadap objek yang akan didemonstrasikan. Sebelum proses demonstrasai guru sudah mempersiapkan alat-alat yang akan digunakan dalam demontrasi tersebut.

Guru dituntut menguasai bahan pelajaran serta mengorganisasi kelas, jangan sampai guru terlena dengan demonstrasinya tanpa memperhatikan siswa secara menyeluruh. Ada beberapa prosedur metode demonstrasi yang harus dilakukan dalam pembelajaran adalah:
  1. Mempersiapkan alat bantu yang akan digunakan dalam pembelajaran.
  2. Memberikan penjelasan tentang topik yang akan didemonstrasikan.
  3. Pelaksanaan demonstrasi bersamaan dengan perhatian dan peniruan dari siswa.
  4. Penguatan (diskusi, tanya-jawab, dan latihan) terhadap hasil demonstrasi.
  5. Kesimpulan.

Kemampuan guru yang harus diperhatikan untuk menunjang metode demonstrasi diantaranya:
  1. Mampu secara proses tentang topik yang dipraktekkan
  2. Mampu mengelola kelas, menguasai siswa secara menyeluruh.
  3. Mampu menggunakan alat bantu yang digunakan.
  4. Mampu melaksanakan penilaian proses.

Adapun kondisi dan kemampuan siswa yang harus diperhatikan dalam penerapan metode demonstrasi adalah:
  1. Siswa memiliki motivasi, perhatian, dan minat terhadap topik yang akan didemonstrasikan.
  2. Memahami tentang tujuan atau maksud yang akan didemonstrasikan.
  3. Mampu mengamati proses yang dilakukan oleh guru.
  4. Mampu mengidentifikasi kondisi dan alat yang digunakan dalam demonstrasi

Udin S. Winataputra, 2001. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Universitas Terbuka

g. Metode inquiri

Metode pembelajaran ini bertujuan agar siswa terangsang oleh tugas dan mencari sendiri pemecahan masalah itu, mencari sumber sendiri dan belajar bersama dalam kelompoknya.

h. Metode karya wisata

Metode pembelajaran ini berlangsung di luar kelas. Siswa diajak ke suatu objek tertentu untuk meneliti atau meninjau guna memperoleh pengalaman langsung dari objek yang dikunjunginya.

Iskandarwasid dan Dadang Sunendar, 2008. Strategi Pembelajaran Bahasa. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya



0 Response to "Metode-Metode Pembelajaran Bahasa Indonesia"

Post a Comment