Subjective Well Being (Pengertian dan Faktor-faktor yang mempengaruhinya)

Subjective well being (Pengertian dan Faktor-faktor yang mempengaruhinya)



Subjective well being dapat diartikan sebagai penilaian individu terhadap kehidupannya yang meliputi penilaian kognitif mengenai kepuasan hidup dan penilaian afektif mengenai mood dan emosi seperti perasaan emosional positif dan negatif (Eddington dan Shuman, 2008).

Eddington, N., & Shuman, R. (2008). Subjective well being (happiness). California: Continuing Psychology Education Inc.

Subjective well being didefinisikan oleh Diener, Lucas & Oishi (2005) sebagai evaluasi kognitif dan afektif individu terhadap hidupnya. 
Diener, E., R.E. Lucas, & Oishi, S. (2005). Subjective well being: the science of happiness and life satisfaction. Dalam C.R. Snyder & S.J. Lopez (edtr). Handbook of positive psychology (hal – 63 – 73). New York: Oxford University Press.

subjective well being dari Russell (2008) adalah persepsi individu terhadap kehidupannya atau pandangan subjektif individu terhadap pengalaman hidupnya.
Russell, J.E.A. (2008). Promoting subjective well being at work. Journal of Career Assessment,16, 117 – 131. Doi: 10.1177/1069072707308142.


Subjective well being dapat diartikan sebagai penilaian individu terhadap kehidupannya yang meliputi penilaian kognitif mengenai kepuasan hidup dan penilaian afektif mengenai mood dan emosi (Diener & Lucas, 1999). 
Diener, E., & Lucas, R.E. (1999). Personality and subjective well being. In D. Kahneman, E. Diener & N. Schwarz., Well being: The foundations of hedonic psychology. New York: Russell Sage Foundation.

Menurut Shin & Jhonson (dalam Diener, 2009) subjective well being didefinisikan sebagai penilaian global kualitas hidup individu menurut kriteria yang telah dipilih individu tersebut.
Diener E. (2009). Subjective well being. In E. Diener (Ed). The science of well being. New York: Springer Science Business Media.


Faktor – faktor yang mempengaruhi subjective well being


Berbagai hasil penelitian dan literatur telah menghasilkan sejumlah variabel yang dianggap sebagai prediktor subjective well being yang signifikan. Prediktor – prediktor yang dimaksud adalah harga diri (self esteem), kepribadian, optimisme, dukungan sosial, pengaruh masyarakat dan budaya, proses kognitif, serta faktor demografis seperti jenis kelamin, usia, status pernikahan dan pendapatan. Berikut ini adalah pembahasan secara lebih spesifik untuk masing – masing prediktor diatas.
a. Harga diri (self esteem)
Menurut Eddington dan Shuman (2008) harga diri berhubungan kuat secara positif di budaya barat. Eddington, N., & Shuman, R. (2008). Subjective well being (happiness). California: Continuing Psychology Education Inc.
Harga diri (self esteem) yang tinggi akan membuat individu memiliki beberapa kelebihan, termasuk pemahaman mengenai arti dan nilai hidup (Ryan dan Deci, 2001). 
Ryan, R. M. & Deci E.L. (2001). On happiness and human potentials: A review of research on hedonic and eudaimonic well – being. Annual Review Psychology, 52, 141 – 166. Chicago: University of Illinois.
Hubungan yang kuat antara harga diri (self esteem) dan subjective well being tidak ditemukan secara konsisten di beberapa negara, terutama di negara – negara penganut sistem kolektif seperti di Cina. Di negara – negara tersebut, otonomi dan tuntutan pribadi dianggap tidak lebih penting daripada kesatuan keluarga dan sosial sehingga harga diri (self esteem) menjadi prediktor subjective well being yang kurang penting (Eddington & Shuman, 2008).
Eddington, N., & Shuman, R. (2008). Subjective well being (happiness). California: Continuing Psychology Education Inc.

b. Kepribadian
Dua trait kepribadian yang ditemukan paling berhubungan dengan subjective well being adalah extraversion dan neuroticism (Diener & Lucas, 1999). 
Diener, E., Suh, E. M., Lucas, R. E., & Smith, H. L. (1999). Subjective well-being: Three decades of progress. Psychological Bulletin, 125, 276-302.
Extraversion mempengaruhi afek positif sedangkan neuroticism mempengaruhi afek negatif. Para peneliti berpendapat bahwa extraversion dan neuroticism paling berhubungan dengan subjective well being karena kedua trait tersebut mencerminkan temperamen seseorang.

c. Optimisme
Individu yang memiliki optimisme terhadap masa depan cenderung merasa lebih bahagia dan lebih puas dengan kehidupan (Diener et.al, 1999). 
Diener, E., Suh, E. M., Lucas, R. E., & Smith, H. L. (1999). Subjective well-being: Three decades of progress. Psychological Bulletin, 125, 276-302.
Schaier dan Carver (dalam Eddington & Shuman, 2008) menyatakan optimisme sebagai kecenderungan untuk berharap hasil yang menyenangkan pada kehidupan seseorang. Secara spesifik, mereka yang mempercayai bahwa dirinya akan mendapat hasil yang positif, lebih mungkin untuk meraih tujuannya. 
Eddington, N., & Shuman, R. (2008). Subjective well being (happiness). California: Continuing Psychology Education Inc.

d. Dukungan sosial
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa dukungan sosial memiliki hubungan dengan dukungan sosial (Savelkoul et.al, 2000; Siedlecki et.al, 2013; Taylor et.al, 2001). Menurut Diener dan Selligman (2002) dukungan sosial merupakan prediktor subjective well being. Orang – orang yang memperoleh dukungan sosial yang memuaskan melaporkan bahwa mereka lebih sering merasa bahagia dan lebih sedikit merasakan kesedihan. Hal ini karena pemikiran bahwa individu memiliki tempat bersandar ketika mereka membutuhkan akan membuat individu merasa nyaman dan hal ini akan berkontribusi pada afek positif yang dirasakan individu. Tingginya afek positif yang dirasakan individu menunjukkan tingginya subjective well being yang dimiliki individu tersebut. Menurut Campbell (dalam Taylor et.al, 2001) hadirnya orang – orang yang memberikan dukungan sosial akan meningkatkan kemampuan individu dalam menghadapi stress sehingga memapu menghasilkan tingkat subjective well being yang lebih tinggi.

e. Pengaruh masyarakat dan budaya
Diener, Oishi dan Lucas (2003) mengemukakan bahwa perbedaan subjective well being dapat terjadi karena perbedaan kekayaan negara. Negara yang kaya dinilai dapat membentuk subjective well being yang tinggi pada penduduknya karena negara yang kaya cenderung menghargai hak asasi manusia, memberikan angka harapan hidup yang lebih panjang dan lebih demokratis. Perbedaan juga dapat disebabkan oleh budaya. Diener, Suh, Oishi dan Shao (dalam Wirtz, Chiu, Diener & Oishi, 2009) mengatakan bahwa norma budaya lebih mempengaruhi afek positif daripada afek negatif. Di dalam sebuah budaya yang meanggap ekspresi hal – hal positif sebagai sesuatu yang tidak baik, individu cenderung melaporkan tingkat afek positif yang lebih rendah daripada individu yang tumbuh di dalam budaya yang menganggap ekspresi hal – hal positif sebagai sesuatu yang wajar. Afek positif lebih dipengaruhi oleh lingkungan karena lebih bersifat sosial.
f. Faktor demografis
Diener, Lucas dan Oishi (2005) mengatakan bahwa efek faktor demografis (misalnya jenis kelamin, umur, status pernikahan, pendapatan) terhadap subjective well being biasanya kecil. 



Berikut adalah penjelasan mengenai faktor demografis yang mempengaruhi subjective well being.
a. Jenis kelamin dan umur
Diener, Lucas dan Oishi (2005) menyatakan bahwa jenis kelamin dan umur berhubungan dengan subjective well being, namun efek tersebut kecil. Pernyataan tersebut diperkuat oleh hasil penelitian Diener dan Suh (dalam Diener et al, 2005) yang menunjukkan bahwa perempuan memiliki tingkat subjective well being yang relatif sama dengan laki – laki.

b. Status pernikahan
Pengaruh status pernikahan terhadap subjective well being dipengaruhi kuat oleh kebudayaan setempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam kultur individualis, pasangan yang tidak menikah tetapi tinggal bersama (cohabiting) diketahui merasa lebih bahagia daripada pasangan menikah atau seseorang yang tidak memiliki pasangan. Sebaliknya dalam kultur kolektivis, pasangan yang menikah diketahui merasa lebih bahagia daripada pasangan yang belum menikah tetapi tinggal bersama atau seseorang yang tidak memiliki pasangan (Diener, Gohm, Suh, Oishi dalam Diener, et al, 2005).
Banyak peneliti yang percaya pernikahan berhubungan dengan subjective well being karena pernikahan sebagai kekuatan melawan kesulitan hidup. Pernikahan memberikan dukungan emosional dan finansial yang menghasilkan kondisi positif subjective well being (Eddington & Shuman, 2008)
c. Pendapatan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendapatan memiliki hubungan yang konsisten dengan subjective well being dalam analisis pada skala negara. Hal ini disebabkan negara yang lebih makmur memiliki demokrasi yang lebih baik dan lebih menghargai persamaan. Dalam analisis pada skala individu, perbedaan pendapatan dalam selang waktu tertentu hanya memberikan pengaruh yang kecil terhadap subjective well being (Diener, et al, 2005). Alasan pendapatan tidak
terlalu kuat pengaruhnya terhadap subjective well being karena kebanyakan orang yang memiliki pendapatan lebih tinggi harus menghabiskan waktu lebih banyak untuk bekerja dan memiliki sedikit waktu untuk bersenang – senang dan berhubungan sosial (Diener & Diener, 2009).

0 Response to "Subjective Well Being (Pengertian dan Faktor-faktor yang mempengaruhinya)"

Post a Comment