Makalah Sebab-sebab Kenakan Remaja

Makalah Sebab-sebab Kenakan Remaja


LATAR BELAKANG
Menurut Sarlito Wirawan (1997:14-15) usia remaja menggunakan batasan usia 11-24 tahun dan belum menikah. Sedangkan kenakalan remaja menurut (Kartini Kartono:1992:7) perilaku jahat atau dursila atau kejahatan atau kenakalan anak-anak muda. 
Teori tentang sebab-musabab kenakalan remaja memang merupakan alat untuk membantu menganalisis sebab-musabab kenakalan remaja. Meskipun demikian disadari bahwa tidak ada seorang ahli dan teorinya, yang dapat menyatakan sebab yang pasti, yang berlaku untuk semua jenis kenakalan remaja. Dengan kata lain tidak ada satu teori yang dapat menjelaskan secara sempurna

SEBAB-SEBAB TERJADINYA KENAKALAN REMAJA

Dalam modul ketujuh ini anda akan mempelajari sebab-sebab terjadinya kenakalan remaja. Melalui modul ini anda akan memperoleh pemahaman tentang ruang lingkup teori-teori mengenai sebab-sebab munculnya gejala kenakalan remaja. 
oleh karena itu setelah mempelajari modul ini, anda di harapkan dapat menjelaskan:
1. Teori biologis tentang sebab-musabab terjadinya kenakalan remaja.
2. Teori psikogenis tentang sebab-musabab terjadi kenakalan remaja.
3. Teori sosiogenis tentang sebab-musabab terjadi kenakalan remaja.
4. Teori subkultur tentang sebab-musabab terjadi kenakalan remaja.
5. Teori pengendalian tentang sebab-musabab terjadi kenakalan remaja.
A. Pandangan Teori Biologis Tentang Sebab-sebab Terjadinya Kenakalan Remaja
Istilah teori dan biologi merupakan istilah yang sudah lazim anda dengar paling tidak sejak anda memasuki jenjang pendidikan SLTP. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah apakah teori biologis itu? Untuk menjawab pertanyaan itu  ada dua pengertian pokok yang harus diketahui yaitu teori dan biologis. Pengertian teori sudah anda pahami pada bagian pengantar modul 6 ini. Pengertaian biologis paling tidak menunjuk kepada isi dan sifat dari makhluk hidup. Misalnya apa bila kita biologis itu dihubungkan dengan kata kebutuhan sehingga menjadi kebutuhan bialogis, istilah ini menunjuk kepada segala hal yang dibutuhkan makhlik hidup untuk dapat mempertahankan kehidupanya dan sekaligus mempertahankan generasinya.

Teori biologis pada dasarnya berangkat dari sebuah asumsi bahwa apa yang menjadi pada sebuah generasi adalah warisan atau keturunan dari generasi sebelumnya. Dikaitkan dengan prilaku seseorang, teori biologis memandang bahwa prilaku seseorang ditentukan oleh faktor-faktor yang dibawa atau dimiliki sejak lahir. Faktor-faktor ini merupakan warisan atau keturunan dari orang tuanya. Karena merupakan faktor keturunan tidak ada seorangpun yang dapat menolak kehadiran faktor-faktor tersebut.

Dikaitkan dengan munculnya kejahatan pada umumnya, berbagai penelitian telah dilakukan untuk mengetahui pengaruh faktor pembawaan tersebut pada perbuatan kriminal. Ada tiga metode yang dilakukan, yaitu: pertama concretefamily suatu penyelidikan keluarga penjahat secara vertikal, maksudnya dari suatu turunan ke turunan yang lain, kedua statisticalfamily studi: suatu penelitian yang menitik beratkan pada aspek sejarah keluarga golongan besar penjahat secara horisontal untuk dapat memperoleh data tentang faktor pembawaan sebagai keseluruhan, dan ketiga, study of twins suatu penelitian terhadap anak-anak yang lahir dalam keadaan kembar.

Berdasarkan pada pengertian umum tentang teori biologis sebagai mana dijelaskan diatas, kenakalan remaja dengan demikian menurut pandangan teori biologis disebabkan oleh kelainan fisik atau genetik seseorang.
Kartini Kartono (1998:25) menyatakan bahwa tingkah laku sosiopatik atau delinkuen pada anak-anak dan remaja dapat muncul karena dua sebab, yaitu: pertama karena faktor-faktor fisiologis dan struktur jasmanilah seseorang dan kedua karena cacat jasmaniah yang dibawa sejak lahir. Faktor-faktor fisiologis dan struktur jasmaniah serta cacat jasmaniah ini diturunkan melalui gen atau plasma pembawa sifat dalam keturunan, melalui kombinasi gen dan dapat juga disebabkan oleh tidak adanya gen tertentu.
Ciri-ciri fisik itu misalnya memiliki bentuk tubuh yang cenderung mesomorpbs,yaitu relatif berotot, kekar kuat dan pada umumnya bersifat lebih agresif.
Menurut teori biologis, kenakalan remaja juga bisa muncul karena adanya pewarisan tipe-tipe kecenderungan yang luar biasa (abnormal).

B. Pandangan Teori Psikologis Tentang Sebab-sebab Terjadinya Kenakalan Remaja
Sebab-sebab timbulnya suatu perilaku dapat dijelaskan dari aspek psikologis. Artinya orang memandang factor kejiwaan yang memiliki pengaruh besar atas perilaku yang muncul pada diri seseorang. Misalnya anak yang berprestasi tinggi di sekolah. Persepsi merupakan salah satu isi kejiwaan seseorang. Dapat dilihat dari teori psikogenis, faktor utama yang menjadi sebab timbulnya kenakalan remaja adalah faktor psikologis. Teori ini menekankan sebab-sebab tingkah laku delinkuen anak-anak dari aspek psikologis atau isi kejiwaannya. Aspek psikologi ini antara lain meliputi faktor intelegensi, ciri kepribadian, motivasi, sika-sikap yang salah, fantasi, rasionalisasi, internalisasi diri yang keliru, konflik batin, emosi yang kontroversial, kecenderungan, psikopatologis dan lain-lain.
Anak-anak delinkuen mempunyai karakteristik yang berbeda dengan anak-anak nondelinkuen. Perbedaan itu antara lain berupa perbedaan struktur intelektualnya dan perbedaan cirri karakteristik individu. Dilhat dari perbedaan struktur intelektual, pada umumnya intelegensi anak-anak delinkuentidak berbeda dengan anak-anak yang normal, namun demikian ada fungsi-fungsi kognitif khusus yang jelas berbeda. Umumnya anak delinkuen mendapat nilai lebih tinggi untuk tugas presentasi disbanding keterampilan verbal. 

Berbedaan ciri karakteristik individu, Anak-anak delinkuen mempunyai sifat kepribadian khusus yang menyimpang seperti:
1.Hampir semua anak muda jenis ini hanya berorientasi pada masa sekarang, bersenang-senang dan puas pada hari ini. Mereka tidak mampu mempersiapkan bekal hidup bagi hari esok dan tidak mamppu membuat rencana bagi hari depan.
2.Kebanyakan dari anak-anak delinkuen terganggu secara emosional.
3.Mereka kurang tersosialisasi dalam masyarakat normal, sehingga tidak mengenal norma-norma kesusilaan dan bertanggung jawab secara sosial.
4.Mereka senang menceburkan diri dalam kegiatan tanpa berfikir yang merangsang rasa kejantanan, walaupun menyadari resiko dan bahaya yang terkandung di dalamnya.
5.Pada umumnya mereka Sangat impulsive(dorongan hati) dan suka menyerempet bahaya.
6.Hati nurani mereka tidak atau kurang lancar fungsinya.
7.Mereka kurang memiliki disiplin diri dan control diri, sebab meraka tidak pernah dituntut untuk melakukan hal tersebut. Tanpa pengekangan diri itu meraka menjadi liar, ganas, dan tidak bisa dikuasai oleh orang dewasa. Kemudian muncul kebiasaan jahat yang mendarah daging dan menjadi stigma.

Namun dalam kehidupan keluarganya mereka mendapat kenyataan lain seperti adanya perceraian di antara bapak dan ibu, orangtua hidup terpisah, terjadinya poligami dll. Dalam kondisi demikian, dimana Terdapat adanya ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan pada anak dan remaja mendapatkan stimulasi eksternal yang membuatnya mengalami konflik batin. Konflik batin ini harus diselesaikannya, dan bentuk penyelesaian ini umumnya menjadi perilaku delinkuen.

Dari contoh di atas tanpak bahwa argumen sentral teori psikologis adalah memandang Perilaku delinkuen sebagai bentuk penyelesaian atau kompensasi dari masalah psikologis dan konflik kejiwaan dalam menanggapi stimulasi eksternal sosial dan pola-pola hidup keluarga yang patologis. Stimulus eksternal bersumber dari linkungan keluarga,sekolah maupun masyarakat.

1.Dari lingkungan keluarga, konflik batin yang menimbulkan kompensasi dalam
wujud perilaku delinkuen disebabkan oleh kondisi keluarga yang tidak bahagia dan seimbang, perlakuan orang tua yang tidak adil terhadap anak-anaknya, keluarga yang broken home maupun quasi broken home. Dalam keluarga yang semacam itu, anak kurang mendapatkan kasih sayang,  perhatian dan tuntutan pendidikan orang tua. Keinginan dan harapan anak-anak tidak dapat tersalur dengan memuaskan atau tidak mendapatkan kompensasinya. Akibatnya mereka menjadi bingung, resah, sedih, malu. Dendam, benci dan sebagainya yang mengakinatkan pikiran mereka menjadi kacau dan liar.
2.Dari lingkungan sekolah, konflik batin yang menimbulkan kompensasi dalam wujud
perilaku delinkuen antara lain disebabkan oleh perasaan rendah diri dan tak mampu mengikuti pelajaran di sekolah. Anak-anak dan remaja yang mempunyai perilaku delinkuen rata-rata memiliki intelegensi verbal yang rendah dan karena itu prestasi belajarnya juga rendah dan tidak memuaskan. Akibatnya mereka memiliki cakrawala dan wawasan yang sempit, mudah terpengaruh oleh hasutan yang membawa mereka berperilaku delinkuen. Selain itu disebabkan juga oleh kondisi sekolah yang tidak sesuai dengan kebutuhan mereka. Contoh sederhana hal ini adalah seringnya anak-anak tersebut membolos dari sekolah, berkelahi, minum-minuman keras dll.
3.Dari lingkungan masyarakat, konflik batin yang menimbulkan kompensasi dalam wujud
perilaku delinkuen antara lain disebabkan oleh tekanan batin, pengaruh alcohol, obat-obat terlarang dan narkoba. Tekanan batin dari masyarakat ini antara lain adanya pemujaan terhadap materi dan kekuasaan. Hal ini mendorong remaja untuk memamerkan diri dan menjaga gengsi. Penyesuaian dalam diri mereka bukan kepada lingkungan sosial normal melainkan mereka akan menyatukan diri dengan geng-geng yang ada di sekitarnya. Kondisi ini semakin subur karena orang-orang di sekitar anak dan remaja tersebut lalai terhadap mereka.
4.Selain disebabkan oleh faktor-faktor di atas, perilaku delinkuen dari sudut pandang teori
psikogenis, faktor alami remaja itu sendiri. Maksudnya adalah faktor perkembangan remaja yang mengalami masa transisi dari remaja menuju dewasa. Masa transisi ini dapat memunculkan moral remaja yang berbeda dengan moral orang dewasa. Wujud moral remaja antara lain adanya semangat memberontak terhadap kemapanan. Dengan proses perkembangan pribadi anak, yang mengandung unsur dan usaha menuju kedewasaan seksual dan pencarian suatu identitas kedewasaan. Contoh sederhana dari teori ini adalah adanya perilaku kebut-kebutan di jalan raya sebagai bentuk protes ketidak percayaan orang tua terhadap kemampuan mereka, penyimpangan seks remaja dll.

Dapat disimpulkan bahwa menurut teori psikogenis perilaku dekinkuen atau kejahatan dan kenakalan remaja merupakan reaksi terhadap masalah psikis anak remaja itu sendiri, yang dapat disebabkan oleh banyak faktor, baik yang berasal dari remaja itu sendiri maupun dari lingkungan.

C.Pandangan Teori Sosiogenis Tentang Sebab-sebab Terjadinya Kenakalan Remaja
Teori sosiogenis memandang bahwa perilaku seseorang disebabkan adanya interelasi orang tersebut dengan lingkungan sosialnya. Kultur sosial mempengaruhi dan membentuk perilaku anggota kelompok  sosial tersebut. Sebaliknya perilaku anggota kelompok dapat menciptakan kultur sosial baru atau juga dapat memperkuat kultur sosial yang lama. Lingkungan sosial ini dapat berupa lingkungan kecil seperti keluarga dan kelompok-kelompok sosial, tetapi juga bisa berupa lingkungan yang besar seperti masyarakat, suku, bangsa dan Negara. Contoh pada keluarga yang memiliki kebiasaan membaca, anak-anak yang ada dalam keluarga tersebut  umumnya juga memiliki kebiasaan membaca. Faktor sosial dan kultur mempunyai pengaruh yang besar terhadap munculnya suatu perilaku.
Munculnya kejahatan pada umumnya, menurut teori sosiogenis disebabkan oleh banyak faktor yang memiliki beberapa aspek baik ekonomi, politik, maupun sosial budaya. Aspek Ekonomi dapat berupa system ekonomi, harga, mekanisme pasar, krisis ekonomi, gaji, upah, pengangguran dll. Aspek Politik berhubungan dengan system politik, kebijakan politik, partisipasi politik dll. Aspek Sosial budaya berhubungan dengan system nilai, norma-norma sosial, adat-istiadat, kebiasaan dll.
Dilihat dari teori sosiogenis, kenakalan remaja lebih banyak disebabkan oleh faktor sosial dankultur, meskipun dapat juga disebabkan ole faktor yang bersifat sosial psikologis. Struktur sosial deviatif merupakan struktur sosial yang di dalamnya terdapat perbedaan yang tajam antara kelompok yang ada, seperti status sosial dan peranan sosial. Di lihat dari teori sosiogenis, kenakalan remaja merupakan produk dari kondisi masyarakatnya, dengan segala pergolakan soaial yang ada di dalamnya. Dalam pandangan teori sosiogenis, kenakalan remaja atau perilaku delinkuen tidak hanya terjadi dan disebabkan oleh lingkungan keluarga saja, akan tetapi yang lebih utama adalah disebabakan oleh konteks kulturalnya.
D.Pandangan Teori Subkultur Tentang Sebab-sebab Terjadinya Kenakalan Remaja
Istilah kultur sering diartikan dengan kebudayaan. Dalam pengertian ini maka kultur merupakan suatu kumpulan nilai dan norma yang menuntut bentuk tingkah laku responsif sendiri yang khas pada anggota-anggota kelompok, yang membedakannya dengan kelompok lain. Sedangkan istilah sub dalam arti yang umum dapat dimaknai sebagai bagian dari sesuatu, atau sesuatu yang memiliki sebagian sifat dan cirri dari sesuatu. Dalam hubungannya dengan konsep kultur, istilah sub lebih menunjukkan pada adanya suatu bentuk yang memiliki sifat inklusif, dari sebuah kultur tertentu. Teori subkultur merupakan suatu teori yang berusaha menjelaskan sesuatu dari sudut pandang adanya sifat-sifat inklusif dari sebuah kultur atau pola budaya yang inklusif sifatnya.
Teori subkultur kaitannya dengan pembahasan tentang sebab-sebab munculnya gejala kenakalan remaja merupakan teori baru yang melengkapi teori-teori sebelumnya yang sangat populer sampai 1950an yaitu teori Biologis, teori piskogenis, dan teori sosiogenis. Latar belakang munculnya teori ini, paling tidak disebabkan oleh:
1.Bertambah cepatnya jumlah kejahatan dan meningkatnya kualitas kekerasan serta kekejaman yang dilakukan oleh anak-anak remaja yang memiliki subkultur delinkuen.
2.Meningkatnya jumlah kriminalitas mengakibatkan sangat besarnya kerugian dan kerusakan secara universal, terutama terdapat di Negara-negara industri yang sudah maju, disebabkan oleh meluasnya kejahatan anak-anak remaja.
Subkultur delinkuen geng remaja itu mengaitkan system nilai, kepercayaan atau keyakinan, ambisi materiil, hidup santai, pola kriminal, relasi heteroseksual bebas dll, yang memotivasi timbulnya kelompok-kelompok remaja berandal dan kriminal.
Sebab-sebab munculnya gejala kenakalan remaja menurut teori subkultur adalah sifat-sifat suatu kultur sosial dengan pola budaya (subkultur) yang khas dari lingkungan keluarga, tetangga dan masyarakat, dimana anak-anak delinkuen tersebut berada. Sifat-sifat yang dimaksudkan antara lain:
1.Punya populasi yang padat.
2.Status sosial ekonomi penghuninya rendah.
3.Kondisi fisik perkembangan yang sangat buruk.
4.Banyak disorganisasi familia dan sosial bertingkat tinggi.
Sebab-musabah munculnya kenakalan remaja disebabkan subkultur-subkultur delinkuen. Munculnya geng-geng delinkuen dengan subkulturnya masing-masing, sebenarnya merupakan reaksi terhadap permasalahan suatu stratifikasi penduduk dengan status sosial rendah yang ada di tengah suatu daerah yang menilai secara berlebihan status sosial tinggi dan harga kekayaan dari sudut pandang ekonomi.

E.Pandangan Teori Pengendalian Tentang Sebab-sebab Terjadinya Kenakalan Remaja
Secara umum istilah pengendalian berkaitan erat dengan perlakuan khusus yang disengaja. Dalam kehidupan sosial, perilaku individu manusia sebagai anggota masyarakat juga ada pengendaliannya. Faktor pengendalian itu adalah apa yang disebut dengan norma-norma sosial. Wujud norma-norma sosial ada bermacam-macam, antara lain:
1.Folkways, yaitu suatu aturan di dalam melakukan sesuatu yang dibenarkan oleh umum yang sebenarnya tidak memiliki status paksaan atau keharusan.
2.Mores, yaitu segala tingkah laku yang menjadi keharusan, di mana setiap orang wajib melakukan.
3.Hukum, yaitu suatu aturan yang di dalamnya menjelaskan dan mewajibkan ditaatinya mores serta mengekang tingkah laku yang berada di luar ruang lingkup mores tersebut.

Gejala kenakalan remaja dari sudut pandang teori pengendalian disebabkan oleh kontrol diri dan kontrol soaial yang semakin melemah. kontrol diri merupakn kemampuan individu remaja sendiri untuk mengontrol perilakunya agar tidak bertentangan dengan norma-norma sosial yang ada. Sedangkan kontrol sosial merupakan kemampuan orang lain dalam hal ini adalah orang dewasa untuk mengendalikan perilaku para remaja agar tetap berada pada rel yang benar sehingga tidak bertentangan dengan norma-norma sosial. 
Kenakalan remaja merupakan produk ketidakmampuan anak remaja dalam mengendalikan emosi primitif mereka, yang kemudian mereka menyalurkannya. 
Salah satu Faktor yang mempengaruhi melemahnya kontrol orang dewasa terhadap remaja adalah berkembang paham individualisme. Paham ini menenpatkan pentingnya partisipasi setiap individu dan bukannya peranan unit-unit keluarga selaku komunitas atau kelompok dalam berbagai kegiatan. Akibatnya kepentingan individu lebih merupakan perhatian utama daripada kepentingan komunitas bersama. Berkembangnya paham individualisme ini membuat orientasi hidup setiap orang adalah dirinya sendiri. Kebetulan, kepentingan dan kepuasan diri sendiri adalah segalanya. Akibatnya orang akan bersikap acuh tak acuh dengan apa yang terjadi sekelilingnya. Sikap dan empati terhadap apa yang dialami oleh orang lain, tidak lagi dapat diharapkan.  

0 Response to "Makalah Sebab-sebab Kenakan Remaja"

Post a Comment