MAKALAH ILMU ANTROPOLOGI + DAFTAR PUSTAKA

MAKALAH ILMU ANTROPOLOGI + DAFTAR PUSTAKA




BAB I
PENDAHULUAN
a. Latar belakang masalah
Perkembangan ilmu antropologi di Indonesia tidaklah terlalu terlihat jelas, hanya sebagian orang mengenal apa itu ilmu antropologi. Namun seiring berjalannya waktu ilmu antropologi mulai diperkenalkan hal ini dikarenakan mulai timbul kesadaran akan pentingnya ilmu tersebut. Antropologi adalah suatu ilmu tentang manusia dan segala seluk beluk kehidupannya. Ilmu ini sangat bermanfaat dikarenakan ilmu tersebut dapat membantu dalam penerepan berkehidupan baik sebagai makhluk individu maupun sebagai makhluk sosial. Ilmu antropologi telah memberikan pengetahuan tentang perkembangan zaman dan fenomena kehidupan budaya dan masyarakat dari waktu ke waktu.   
b. Rumusan masalah
Adapun yang akan dibahas serta menjadi rumusan masalah dalam makalah ini sebagai berikut :
Apa yang dimaksud dengan Antropologi dan ruang lingkupnya?
Bagaimana sejarah dan perkembangan Antropologi?
Teori-teori apa saja yang terdapat dalam Antropologi?
Apa hubungan Antropologi dengan ilmu-ilmu lainnya?
Apa manfaat dari Antropologi?
c. Metode penyusunan
Metode yang digunakan dalam penyusunan makalah ini adalah berdasarkan data  sekunder dan buku-buku yang menjadi sumber.


BAB II
PEMBAHASAN
ANTROPOLOGI
A. Pengertian Antropologi
Antropologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu Anthropos yang berarti manusia, dan Logos yang berarti ilmu. Ada beberapa pengertian mengenai antropologi sebagai berikut:
1. Antropologi, studi tentang umat manusia, berusaha menyusun generalisasi yang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya, dan untuk memperoleh pengertian yang lengkap tentang keanekaragaman manusia.(Simon Coleman dan Helen Watson, 1992)
2. Antropologi berarti “ilmu tentang manusia” dengan mempelajari aneka warna, bentuk fisik masyarakat serta kebudayaan yang dihasilkan (Koentjaraningrat, 2002:13)
3. Antropologi berarti kajian tentang manusia dan masyarakat, baik yang masih hidup maupun yang sudah mati, yang sedang berkembang maupun yang sudah punah (William A. Haviland,1985 )

Dari semua pengertian tersebut dapat dipahami bahwa antropologi adalah ilmu yang mempelajari manusia dari segi keragaman fisik serta kebudayaan  yang dihasilkan, sehingga terjadi keanekaragaman satu dan yang lainya. Antropologi mempelajari seluk beluk yang terjadi dalam kehidupan manusia, pada masa dahulu hingga masa sekarang, sebagai fenomena yang terjadi di kehidupan kultural masyarakat.

Obyek dari antopologi adalah manusia sebagai individu, masyarakat, suku,bangsa, kebudayaan dan perilakunya. Antropologi mempelajari manusia dalam bermasyarakat, bersuku bangsa, berperilaku, berkebudayaan, dan berperadaban. Secara antropologis manusia dapat ditinjau dari dua segi, yaitu manusia sebagai makhluk biologis dan manusia sebagai sosio-budaya secara terpisah-pisah, tetapi melihatnya menjadi satu kesatuan fenomena bio-sosial. Secara garis besar antropologi dibagi kedalam dua bagian yakni Antropologi Fisik (Biologi) dan Antropologi Budaya.


a. Antropologi Fisik (biologi)
Antropologi fisik adalah studi sistematis tentang makhluk manusia sebagai organisme biologis .Antopologi fisik berfungsi untuk meneliti manusia sebagai makhluk biologi, mempelajari manusia dari unsur lahiriahnya dengan cara mendalam, menyelidiki asal-usul manusia, perkembangan evolusi organik, struktur tubuh, dan kelompok-kelompok manusia atau disebut ras. 

Antropologi fisik juga mempelajari pengaruh lingkungan terhadap struktur tubuh manusia karena manusia adalah makhluk yang hidup dalam lingkungan alam, lingkungan sosial, serta lingkungan transenden. Disamping itu antropologi fisik melakukan penelitian terhadap proses perubahan yang berhubungan dengan keturunan atau genetika.

Antropologi fisik merupakan pendekatan antropologis yang mengkhususkan kajiannya terhadap manusia dilihat dari lahiriah, klasifikasi zoologi, hubungan yang terdapat antara manusia dan makhluk-makhluk lain yang bukan manusia, perkembangan evolusi makhluk hidup, pertumbuhan sistem yang sederhana menuju sistem yang kompleks, teori-teori evolusi organik, keturunan, dan ras sebagai konsepsi biologi (Saebani, 2012:45)

b. Antropologi Budaya
Antropologi budaya adalah cabang antropologi yang mengkhususkan diri pada pola kehidupan masyarakat (William A. Haviland,1985)

Seperti halnya antropologi fisik yang hubungannya erat dengan ilmu-ilmu sains, antropologi budaya pun berhubungan erat dengan ilmu-ilmu social. Antropologi budaya menyelediki seluruh cara hidup manusia. Ilmu ini mempelajari tingkah laku manusia yang dengan akal dan struktur fisiknya berhasil mengubah lingkungannya tanpa ditentukan oleh pola-pola naluriah, melainkan berdasarkan pengalaman dan pengajaran. Dalam menerapakan metodenya, antropologi budaya menggunakan pendekatan dengan membandingkan kebudayaan antarmanusia dan masyarakat dari zaman ke zaman.  
Menurut Haviland, Antropologi budaya dibagi menjadi tiga subdisiplin, yaitu:
(a) Arkeologi
(b) Antropologi linguistic
(c) Etnologi
Arkeologi adalah cabang ilmu yang mempelajari benda-benda dengan maksud untuk menggambarkan dan menerangkan perilaku manusia. 
Antropologi linguistik merupakan cabang ilmu yang mempelajari tentang bahasa-bahasa manusia.
Etnologi mempelajari tentang perilaku manusia sebagaimana yang dapat disaksikan, dialami, dan didiskusikan dengan orang-orang yang kebudayaannya hendak dipahami. Bentuk dari etnologi adalah etnografi atau deskripsi tentang bangsa-bangsa. 

B. Sejarah Perkembangan Antropologi 

Sebagai ilmu, antropologi mengalami tahapan perkembangan. Koentjaraningrat dalam buku Saebani (2012:18-19) menyusun antropologi menjadi empat fase yaitu:

1. Fase pertama (sebelum tahun 1800-an) 
Sekitar abad 15-16, bangsa-bangsa di Eropa mulai berlomba-lomba menjelajahi dunia, mulai Afrika, Amerika, Asia, hingga Australia. Mereka menemukan hal-hal baru, mereka mencatat semuanya dalam buku harian ataupun jurnal perjalanan. Mereka mencatat segala sesuatu tentang suku-suku asing tersebut, mulai ciri-ciri fisik, kebudayaan, susunan masyarakat, atau bahasa dari suku tersebut. Bahan-bahan yang berisi tentang deskripsi suku tersebut kemudian dikenal dengan bahan etnografi atau deskripsi tentang bangsa-bangsa. 

Bahan etnografi terdebut menarik para pelajar Eropa, kemudian pada permulaan abad ke- 19 perhatian bangsa eropa tehadap bahan-bahan etnografi tersebut mulai bertambah. Oleh karena itu timbul usaha mengintegrasikan seluruh himpunan bahan etnografi. 

2. Fase kedua (tahun 1800-an) 
Pada fase ini, bahan-bahan etnografi tersebut telah disusun menjadi
karangan-karangan berdasarkan cara berpikir evolusi masyarakat pada saat itu. Masyarakat dan kebudayaan berevolusi secara perlahan-lahan. Mereka menganggap selain bangsa Eropa sebagai bangsa-bangsa primitif yang tertinggal, dan menganggap eropa sebagai bangsa yang tinggi kebudayaannya.
Pada fase ini, antropologi bertujuan akademis, mempelajari masyarakat dan kebudayaan primitifuntuk memperoleh pemahaman tentang tingkatan sejarah penyebaran kebudayaan manusia.

3. Fase ketiga (awal abad ke-20)
Pada fase ini. negara-negara di Eropa berlomba-lomba membangun
koloni-koloni di negara lain, seperti Asia, Amerika, Australia, dan Afrika. Dalam rangka membangun koloni-koloni tersebut, muncul berbagai kendala seperti serangan dari bangsa asli, berbagai pemberontakan, cuaca yang kurang cocok bagi bangsa Eropa, serta hambatan lain. Dalam menghadapinya pemerintah colonial eropa berusaha mencari kelemahan suku asli untuk menaklukkannya. Untuk itulah, mereka mulai mempelajari bahan-bahan etnografi suku-suku bangsa di luar Eropa, mempelajari kebudayaan dan kebiasaannya, untuk kepentingan mereka. 

4. Fase keempat (setelah tahun 1930-an)
Pada fase ini, antropologi berkembang pesat. Kebudayaan suku bangsa asli yang dijajah Eropa, mulai hilang akibat terpengaruh kebudayaan bangsa Eropa. Pada masa ini terjadi perang besar di Eropa yaitu Perang Dunia II. Perang ini membawa perubahan pada kehidupan manusia dan negara-negara di dunia menuju kehancuran total yaitu kemiskinan, kesenjangan sosial, dan kesengsaraan.
Akan tetapi pada saat itu juga, muncul semangat nasionalisme bangsa-bangsa yang dijajah Eropa untuk keluar dari belenggu penjajahan. Sebagian dari mereka berhasil keluar dari belenggu kolonialisme, keterpurukan, ekonomi, sosial kebudayaan, dan politik.
Proses perubahan bangsa-bangsa yang terjajah menyebabkan perhatian ilmu antropologi tidak lagi ditunjukkan kepada penduduk pedesaan di luar Eropa, tetapi juga kepada suku bangsa di daerah pedalaman seperti suku bangsa Soami, Flam dan Lapp. 

C. Teori-teori Antropologi
Dalam antropologi terdapat teori evolusi yaitu perkembangan antropologi dalam perubahan kondisi pada manusia baik dari faktor pengaruh evolusi biologi manusia ataupun evolusi sosial manusia. Evolusi, evolusi sendiri bearati perubahan pada sifat-sifat terwariskan suatu populasi organisme dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dalam antropologi terdapat dua macam jenis pembahasan teori-teori tentang evolusi yang dibagi kedalam dua bahasan penting yaitu: 
Evolusi biologi 
Evolusi sosial budaya
1. Evolusi biologi 
Dalam evolusi biologi membahas tentang generasi, adaptasi, dan pewarisan terdapat beberapa teori dalam evolusi biologi yaitu:
- Teori lamarck
Teorinya Lamarck dalam  Sebani (2012: 126) menjelaskan tentang adaptasi yang mengatakan bahwa setiap kehidupan harus menyesuaikan diri dengan lingkungannya untuk dapat hidup dan wujud sepanjang masa. Dalam teorinya Lamarck berpendapat bahwa perubahan sel-sel tubuh tidak diwariskan pada keturunannya. 
Dalam teorinya dengan intisari sebagai berikut:
o Makhluk hidup sederhana adalah nenek moyang dari makhluk hidup yang sempurna/modern dengan tingkat kompleksitas yang tinggi
o Makhluk hidup akan beradaptasi menyesuaikan diri dengan lingkungannya dengan menggunakan organ tubuhnya
o Organ tubuh yang sering dipakai akan berkembang ke taraf yang lebih baik, sedang organ yang jarang dipakai akan menghilang
o Perubahan organ tubuh akan diwariskan dan dirurunkan ke generasi berikutnya atau keturunannya.

- Teori Darwin 
Dalam Saebani (2012: 131-132) menjelaskan beberapa hal yang pokok yaitu sebagai berikut,
o Variasi pada tumbuhan dan hewan merupaka variasi karakteristik yang muncul pada penampaka fenotip organisme tersebut.
o Rasio pertambahan secara geometrik, yaitu jumlah setiap spesies relatif tetap. Hal ini karena banyak individu yang tersingkir oleh predator, perubahan iklim, dan proses persaingan.
o Struggle for existence (perjuangan untuk bertahan) merupakan usaha suatu organisme untuk berahan hidup, agar dapat menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi pada lingkungannya.
o Terjadi seleksi alam, yaitu eliminasi variasi yang tidak sesuai dengan lingkungan, yang dapat menyesuaikan maka dapat bertahan.
o The survival of the fittest (bertahan hidup bagi yang paling bugar) merupakan kelestarian terdapat pada organisme yang memiliki kualitas paling sesuai dengan lingkungan. Individu-individu yang dapat hidup dan mewariskan variasi-variasi pada keturunannya.

2. Evolusi sosial budaya
Ada beberapa teori dalam evolusi budaya yaitu:
1) Teori Orientasi Nilai Budaya dari Kluckhohn
Teori ini dirintis oleh sepasang suami istri antropolog Clyde Kluckhohn dan Florence Kluckhohn. Menurut teori tersebut, hal-hal yang paling tinggi nilainya dalam tiap kebudayaan hidup manusia minimal ada 5 hal, yaitu :
a) human nature atau makna hidup manusia.
b) man nature atau makna dari hubungan manusia dengan alam sekitarnya.
c) time, yaitu persepsi manusia mengenai waktu.
d) activity, yaitu masalah makna dari pekerjaan, karya, dan amal dari perbuatan   manusia.
e) relational, yaitu hubungan manusia dengan sesama manusia.
Lima masalah inilah yang disebut value orientations atau orientasi nilai budaya Koentjaraningrat (1987)

2) Teori Evolusi Sosiokultural Paralel-Konvergen-Divergen Sahlins dan Harris
a) Evolusi paralel, merupakan evolusi yang terjadi dalam dua atau lebih sosiobudaya atau masyarakat yang berkembang dengan cara yang sama dan dengan tingkat yang pada dasarnya sama. 
Contoh, masyarakat pada zaman prasejarah : di zaman berburu dan meramu kemudian meningkat ke zaman memelihara binatang dan bercocok tanam. Jika terjadi perubahan-perubahan, pada umumnya mereka memiliki pola-pola kehidupan yang serupa.
b) Evolusi Konvergen, terjadi ketika berbagai masyarakat yang semula berbeda perkembangannya, namun akhirnya mengikuti pola yang serupa kemajuannya. 
Contoh, beberapa negara industri, seperti Jepang dan Amerika mulanya memiliki sejarah peradaban yang jauh berbeda, namun akhirnya memiliki banyak persamaan kemajuan yang serupa.
c) Evolusi Divergen, terjadi ketika berbagai masyarakat yang semula mengikuti banyak persamaan yang serupa, namun akhirnya mencapai tingkat perkembangan yang jauh berbeda. 
Contoh, Indonesia dengan Jepang, mulanya memiliki banyak persamaan pola sampai abad ke-17. Akan tetapi, dalam perkembangan belakangan ini jauh berbeda, Jepang melampaui Indonesia sebagai negara maju dengan standar hidup yang tinggi, sedangkan Indonesia hampir tetap seperti dahulu dan termasuk negara berkembang.


3) Teori Evolusi Kebudayaan Lewis H. Morgan
Lewis H. Morgan adalah seorang perintis antropolog Amerika. Karya terpentingnya berjudul Ancient Society (1987) yang memuat 8 tahapan tentang evolusi kebudayaan secara universal adalah sebagai berikut :
a) Zaman Liar Tua : zaman sejak adanya manusia sampai menemukan api, kemudian manusia menemukan kepandaian meramu dan mencari akar-akar tumbuhan liar.
b) Zaman Liar Madya : zaman manusia menemukan senjata busur dan panah, pada zaman ini manusia mulai mencari ikan di sungai-sungai sebagai pemburu.
c) Zaman Liar Muda : zaman manusia sudah mendapatkan barang-barang tembikar, namun kehidupannya masih berburu.
d) Zaman Berbaur Tua : zaman ini sejak manusia pandai membuat tembikar, mulai beternak, dan bercocok tanam.
e) Zaman Berbaur Madya : zaman sejak manusia beternak dan bercocok tanam sampai kepandaian membuat benda-benda atau alat-alat dari logam.
f) Zaman Berbaur Muda : zaman manusia memiliki kepandaian membuat alat-alat dari logam sampai mengenal tulisan.
g) Zaman Peradaban Purba : menghasilkan beberapa peradaban klasik zaman batu dan logam.
h) Zaman Peradaban Masa Kini : sejak zaman peradaban tua atau klasik sampai sekarang.

4) Teori Evolusi Keluarga J.J. Bachoven
J.J. Bachoven adalah seorang ahli hukum Jerman yang banyak mempelajari etnografi berbagai bangsa (Yunani, Romawi, Indian, termasuk Asia Afrika). Teori Evolusi Keluarga dari Bachoven tersebut bahwa seluruh keluarga di seluruh dunia mengalami perkembangan melalui empat tahap, Koentjaraningrat (1987: 39-41) sebagai berikut :
a) Tahap Promiskuitas, manusia hidup serupa binatang berkelompok, laki-laki dan perempuan berhubungan dengan bebas dan melahirkan keturunannya tanpa ikatan. Keadaan tersebut merupakan tingkat pertama dalam proses perkembangan masyarakat manusia.
b) Lambat laun  manusia sadar akan hubungan antara ibu dengan anaknya sebagai suatu kelompok keluarga inti dalam masyarakat. Oleh karena itu, pada masa ini anak-anak mulai mengenal ibunya, belum mengenal ayahnya. Pada masa itu pula hubungan atau perkawinan antara ibu dengan anak dihindari, dengan demikian timbul adat eksogami.
c) Sistem patriarchate, di mana ayah menjadi kepala keluarga. Perubahan dari matriarchate ke patriarchate tersebut terjadi setelah kaum pria tidak puas dengan keadaan sosial yang mengedepankan peranan perempuan (ibu). Kejadian itulah yang secara lambat laun mengubah tradisi matriarchate ke patriarchate.
d) Pada tingkat yang terakhir, perkawinan tidak selalu dari luar kelompok (eksogami), tetapi dapat juga dari dalam kelompok yang sama (endogami). Hal itu memungkinkan anak-anak secara langsung mengenal dan banyak berhubungan dengan ibu dan ayahnya. Lambat laun sistem patriarchate mengalami perubahan atau hilang menjadi suatu bentuk keluarga yang dinamakan parental

5) Teori Upacara Sesaji Smith
W. Robertson Smith (1846-1894) adalah seorang ahli teologi, ilmu pasti serta bahasa. Tulisannya erat sekali kaitannya dengan teori sesaji. Pada umumnya ada tiga gagasan mengenai asas-asas religi dan agama sebagai berikut :
a) Gagasan pertama, sistem upacara merupakan suatu perwujudan dari religi atau agama yang memerlukan studi analisis khusus.
b) Gagasan kedua, upacara religi atau agama tersebut, biasanya dilaksanakan oleh banyak warga masyarakat (pemeluk religi atau agama) dan memiliki fungsi sosial untuk mengintensifkan solidaritas masyarakat.
c) Pada prinsipnya, upacara sesaji, di mana manusia menyajikan  sebagian dari seekor bianatng, terutama darahnya kepada dewa. Hakikatnya sama sebagai suatu aktivitas untuk mendorong rasa solidaritas terhadap para dewa. Itulah sebabnya dalam upacara sesaji bukan hanya kekhidmatan yang dicari, melainkan juga kemeriahan dan kekeramatan.

D. Hubungan Antropologi dengan Ilmu- ilmu Lainnya 
Ilmu antropologi dengan ilmu-ilmu bagiannya mempunyai hubungan yang sangat banyak dengan ilmu-ilmu sosial yang lain. Hubungan ini pada umumnya bersifat timbal balik. Antropologi memerlukan bantuan ilmu-ilmu itu, dan sebaliknya ilmu-ilmu sosial yang lain juga memerlukan antropologi dalam memecahkan masalah yang dikajinya.
Hubungan dengan Ilmu Biologi
Biologi adalah ilmu yang mempelajari makhluk hidup.antropologi yang erat hubungannya dengan biologi adalah antropologi fisik. Keedudukannya sangat penting dalam membantu antropologi fisik mengenai anatomi, fisiologi, genetika, dan embriologi. Hal ini dibutuhkan untuk meneliti ciri dan bentuk tubuh manusia yang pada umumnya merupakan obyek penelitian manusia. Untuk memahami tingkah laku manusia yang disebut kebudayaan, biologi sebagai landasan organis dari kebudayaan sangat membantu antropologi (Saebani, 2012: 42)

Hubungan dengan Ilmu Sosiologi 
Sosiologi hendak mempelajari masyarakat, perilaku masyarakat, dan perilaku sosial manusia dengan mengamati perilaku kelompok yang dibangunnya. Masyarakat adalah sekelompok individu yang mempunyai hubungan,memiliki kepentingan bersama, dan memiliki budaya. Sebagai ilmu sosial memiliki kepentingan bersama, dan dapat dikontrol secara kritis oleh orang lain atau umum. 
Kelompok tersebut mencakup. keluarga, suku, bangsa, Negara, dan berbagai organisasi politik,ekonomi,sosial.
Menurut  Saebani (2012: 23) sosiologi mengkaji kehidupan ke depan mengenai situasi dan kondisi sosial masyarakat, sedangkan antropologi mengamati kebudayaan masyarakat sebagai pola kehidupan manusia yang berperadaban.

Hubungan dengan Ilmu Sejarah
Antropologi memberi bahan prehistori sebagai pangkal bagi tiap penulis sejarah dari tiap bangsa di dunia kecuali itu, banyak masalah dalam histografi dari sejarah suatu bangsa dapat dipecahkan dengan metode-metode antropologi Koentjaraningrat mengatakan para ahli antropologi memerlukan bantuan dari ilmu sejarah terutama sejarah dari suku-suku bangsa dalam daerah yang didatanginya, sejarah itu diperlukan untuk memecahkan masalah pengaruh kehidupan masyarakat yang diteliti oleh kebudayaan dari luar (Koentjaraningrat, 1986: 35-36)

Hubungan dengan Ilmu Filsafat 
Menurut Sutardjo Wiramihardja dalam Saebani (2012:28) filsafat dapat diartikan sebagai pengetahuan mengenai cara berpikir segala sesuatu atau sarwa sekalian alam, artinya semua materi pembicaraan filsafat adalah segala hal yang menyangkut keseluruhan yang bersifat universal.

Hubungan dengan Ilmu Psikologi
Psikologi adalah cabang dari antropologi yang berifat interdisipliner yang mengkaji kebudayaan dan proses mental. Fokus utama dari cabang ini adalah cara perkembangan manusia dan enkulturasi dalam kelompok budaya tertentu dengan sejarah, bangsa, praktik, dan kategori konseptualnya sendiri, yang membentuk proses perolehan kognisi, emosi, presepsi, motivasi, dan kesehatan mental. Setiap aliran antropologi psikologi memiliki pendekatan masing-masing, di antaranya dengan pendekatan psikologis kognisi yang dikembangkan bersama-sama dengan antropologi pendidikan.
Menurut Saebani (2012 : 36-37) penelitian antropologi dengan bantuan psikologi akan memberi pemahaman bahwa seluruh manusia diciptakan dengan kedudukan dan derajat yang sama, tetapi perkembangan kebudayaannya berbeda, yakni ada yang cepat ada yang lambat.

Hubungan dengan Ilmu Hukum
Hukum dapat dipandang sebagai bagian dari produk akal manusia, dan merupakan bagian dari kebudayaan yang dibuat oleh pola pikir dan pola tindakan manusia demi tercapainya tujuan tertentu (Saebani, 2012: 29)
Menurut Koentjaraningrat (1986: 37-38) antropologi memerlukan bantuan ilmu hukum. Dalam hal ini hukum diperlukan sebagai salah satu aktivitas kebudayaan dalam lapangan kontrol sosial.
Hubungan antropologi dengan hukum melahirkan antropologi hukum, yaitu ilmu hukum yang mempelajari pola-pola sengketa dan cara penyelesaiannya. Antropologi hukum melihat norma sosial sebagai hukum. Kajian antropologi hukum adalah menggali norma-norma dan nilai-nilai dalam masyarakat (Saebani, 2012; 35)

Hubungan dengan Ilmu Geografi
Antropologi merupakan satu-satunya ilmu yang mampu menyelami aneka warna makhluk hidup, maka sudah tentu ilmu geografi tidak dapat mengabaikan ilmu antropologi. Sebaliknya seorang sarjana antropologi juga memerlukan sekedar pengertian tentang geografi, karena banyak masalah kebudayaan manusia mempunyai sangkut-paut dengan keadaan lungkungan alamnya (Koentjaraningrat, 1986: 36)

Hubungan dengan Ilmu Ekonomi
Aktivitas kehidupan ekonomi sangat dipengaruhi oleh sistem , kemasyarakatan, cara berpikir, pandangan dan sikap hidup dari warga masyarakat. Seorang ahli ekonomi tidak dapat mempergunakan dengan sempurna konsep-konsep serta teori-teorinya tentang kekuatan, proses, dan hukum-hukum ekonomi tanpa suatu pengetahuan tentang sistem kemasyarakatan, cara berpikir, pandangan, dan sikap hidup dari warga masyarakat di suatu tempat. 
Dengan demikian seorang ahli ekonomi yang hendak membangun ekonomi di suatu tempat memerlukan bahan komparatif tentang berbagai unsur dari sistem kemasyarakatannya (Koentjaraningrat, 1986: 36-37)

E. Manfaat Antropologi
Sebagai ilmu tentang umat manusia, antropologi melalui pendekatan dan metode ilmiah berusaha menyusun sejumlah generalisasi tentang manusia dan perilakunya, bidang dari antropologi adalah antropologi fisik dan budaya. Antropologi fisik memusatkan perhatiannya pada manusia sebagai organisme biologis yang tekananya pada upaya melacak evolusi perkembangan manusia dan mempelajari variasi-variasi biologis dalam spesies manusia. Sedangkan antropologi budaya mempelajari manusia berdasarkan kebudayaannya, dimana kebudayaan dapat merupakan peraturan-peraturan atau norma-norma yang berlaku dalam masyarakat.



KESIMPULAN

Antropologi adalah ilmu yang mempelajari manusia dari segi keragaman fisik serta kebudayaan (cara-cara berperilaku, tradisi-tradisi, dan nilai-nilai) yang dihasilkan sehingga setiap manusia yang satu dan yang lainnya berbeda-beda. Antropologi mempelajari seluk beluk yang terjadi dalam kehidupan manusia, pada masa dahulu hingga masa sekarang, sebagai fenomena yang terjadi di tengah kehidupan kultural masyarakat dewasa ini.
Manusia dalam kedudukannya sebagai individu, masyarakat, suku, bangsa, kebudayaan, dan perilakunya merupakan objek antropologi. Antropologi mempelajari manusia dalam bermasyarakat, bersuku bangsa, berperilaku, berkebudayaan, dan berperadaban. Secara antropologis, manusia ditinjau dari dua segi yaitu antropologi fisik atau biologi, dan antropologi sosial atau kebudayaan.



DAFTAR PUSTAKA

Coleman, Simon. 1992 .Pengantar Antropologi. Alih Bahasa: Lala Herawati Dharma, 
Bandung: Nuansa

Haviland, William A. 1999.  Antropologi, Jilid 1, Alih Bahasa: R.G. Soekadijo, Jakarta: Erlangga.

Koentjaraningrat. 1986. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta : Aksara Baru

Koentjaraningrat. 1987. Sejarah Teori Antropologi 1. Jakarta : Universitas Indonesia Press

Koentjaraningrat. 2002. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta : Akasara Baru

Saebani, Beni Ahmad, 2012. Pengantar Antropologi. Bandung: CV Pustaka Setia

0 Response to "MAKALAH ILMU ANTROPOLOGI + DAFTAR PUSTAKA"

Post a Comment