--> .

Makalah Sekolah di Zaman Belanda (HBS dan AMS)



HOGERE BURGERSCHOOL (HBS) dan  ALGEMENE MIDELBARE SCHOOL (AMS)

Dekade Kedua Abad Ke dua puluh dapat Dipandang Sebagai Periode yang paling penting dalam tebentuknya suatu Sistem Pendidikan yang lengkap di Indonesia. Kita lihat bahwa Pada Tahun 1914 His Diakui Sama Dengan ELS Dan Mulo disamakan dengan Tiga Tahun Pertama HBS. Tinggal lagi satu langkah yang membawa anak Indonesia Ke Perguruan Tinggi ,  Yakni AMS Sebagai Jembatan Antara Mulo dengan Universitas 

A. HOGERE BURGER SCHOOL (HBS)
1. Perkembangan
Sejak 1839 Telah Dipikirkan Tentang Perlunnya Sekolah Menengah Di Indonesia Sehingga Anak-Anak Tidak Perlu Pergi Ke Nederland. Pada Tahun 1860 Raja Belanda menyetujui Pendirian Sekolah Menengah tersebut dan memperkenankan dengan nama sekolah yang menjelma menjadi Gymnasium Koning Wilem III. Tentu saja sekolah ini mendapatkan dukungan semua pembesar Indonesia. Tujuan sekolah ini ialah mempersiapkan siswa untuk universitas dan untuk jabatan yang tidak memerlukan diploma universeter. Gymnasium ini terbagi dalam dua bagian : 

a. Seksi A, lama studi enam tahun, untuk mereka yang ingin melanjutkan pelajaran di universitas, dan menyajikan program klasik. Seksi A yang memberikan pendidikan klasik tidak baik perkembangannya. Siswanya sejak mulanya 5 orang dan setelah pada tahun 1866 siswa terakhir meninggalkannya maka sekolah itu ditutup secara resmi pada tahun 1868.

b. Seksi B, lama studi 4 tahun, yang memberi persiapan untuk akademi militer di delft dan akademi perdagangan dan industry. Pada tahun 1867 gymnasium direorganisasi. seksi B yang sediakala diubah menjadi sekolah bentuk baru , yakni HBS (hogere burgerschool) yang untuk pertama kali dianjurkan oleh menteri liberal thorbecke pada tahun 1863. 

HBS di Indonesia dibentuk menurut model yang ada di Nederland dan selama eksistensinya selalu berpegang kepada model itu. Pada Tahun 1867 didirikan HBS Pertama di Jakarta, 1875 Di Surabaya, 1877 Di Semarang. HBS Surabaya Dan Semarang yang sedianya lamanya 3 tahun menjadi 5 tahun pada tahun 1879. Pada Tahun 1882 didirikan hbs 3 tahun anak wanita di Jakarta. 

2. Kurikulum 
Kurikulum HBS di Indonesia tak sedikit pun berbeda dengan yang di negeri Belanda. Kurikulum ini dirasa mantap tanpa banyak mengalami perubahan selama eksistensinya dan dapat bertahan terhadap berbagai kritik. apa yang diajarkan tampaknya universal. Bahannya dapat berubah dan harus disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, nama mata pelajaran tetap sama. Siswa HBS harus mempunyai bakat yang tinggi untuk matematika dan ilmu pengetahuan alam maupun Bahasa. Pada akhir sekolah diberikan ujian yang meliputi semua bahan yang telah diajarkan selama 5 tahun itu. Kurikulum HBS uniform bagi semua tanpa pilihan. Kurikulum yang semata-mata mengikuti yang di Nederland, dengan sendirinya tidak menghiraukan keadaan di Indonesia.

3. Guru 
Hanya mereka yang memilik Ijazah Ph.D (Doktor) Atau Diploma MO berwenang mengajar di HBS. Diploma MO – B adalah ijazah tertinggi yang dapat dicapai oleh seorang guru, Yang Dapat Disamakan Dengan Gelar Doktor. Namun Karena Sulitnya Memperoleh Guru Dengan Kualifikasi Yang Demikian, Maka Dipekerjakan Guru Dengan ijazah yang lebih rendah. maka mereka yang berijazah Ir, Perwira AD Dan AL, Pemegang Diploma MO-A (wewenang mengajar pada tiga tahun pertama HBS) Bahkan Yang Berijazah HA (Hoofdacte) Untuk sementara dapat dipekerjakan pada HBS, khususnya di kelas-kelas rendah. Pada Tahun 1900 Misalnya 80%-90% dari guru HBS telah berwenang, dan dengan demikian dapat mencapai taraf yang sama dengan HBS Di Nederland .

4. Inspeksi
Tidak ada Inspeksi Untuk HBS. Urusan dan pengawasan HBS diserahkan kepada dewan kurator atau badan pengawas yang beranggotakan tokoh-tokoh pemerintah tertinggi seperti Presiden Dewan Hindia Belanda dan pembasar-pembesar lainnya. hal ini menunjukan betapa besar perhatian pemerintah akan sekolah ini, Yang Tentunya Menambah Prestise HBS.

5. Penerimaan Dan Populasi Murid HBS
a. Murid Menurut Seks 
Selama hampir seperempat Abad HBS tidak menerima murid wanita. Orang menentang koedukasi  dan karena itu dibuka HBS Untuk Wanita Di Jakarta Pada Tahun 1882. Akan tetapi gadis-gadis diluar jakarta sukar memasuki sekolah ini karena keengganan orang tua memperbolehkan anak gadisnya pergi ke jakarta meninggalkan rumah orang tuanya. Permintaan Seorang Guru HBS Di Semarang untuk anak gadisnya sendiri agar dapat diterima sebagai murid (1879) menimbulkan diskusi antara yang pro dan kontra. Dianngap bahwa gadis-gadis akan menimbulkan berbagai persoalan, bahwa anak-anak pria pada usia itu secara moral dan sosial belum dapat bergaul dengan gadis-gadis. Akhirnya pada tahun 1891 gadis-gadis mulai diterima dan dianggap dapat memperbaiki suasana sekolah, pada tahun 1919 jumlah gadis meningkat mencapai sepertiga murid.
b. Murid Menurut Kebangsaan 
Sewaktu Gymnasium Koning Wilem III Di Dirikan Pada Tahun 1860 Semua Siswa Orang Belanda. baru 14 tahun kemudian anak indonesia pertama diterima (1874) dan anak cina pertama pada tahun 1877. Jumlah anak indonesia di HBS pada tahun 1900 hanaya 2%, tahun 1915 hanya 6,1% dari 915 murid. jumlah ini meningkat dikemudian hari akan tetapi tidak kunjung mengancam dominasi anak belanda. Faktor-Faktor yang menyebabkan kecilnya jumlah itu antara lain sulitnya bagi anak indonesia memasuki ELS kelas satu untuk mempelajari bahasa perancis, tingginya uang sekolah, tidak adannya hubungan antara HIS Dengan HBS dan karena terbukannya kesempatan memasuki MULO. Pada Tahun 1910 jumlah anak cina melampaui jumlah anak indonesia dan memegang posisi itu dalam decade-dekade berikutnya.

6. Kemantapan Belajar Di HBS 
Persentase putus sekolah Di HBS termaksuk tinggi. Biasanya sekitar 50 persen mencapai tingkat iv akan tetapi sekitar 25% yang berhasil lulus dengan memperoleh ijazah. anak-anak indonesia menunjukan hasil yang lebih baik disbanding dengan siswa bangsa lain, walaupun sebenarnya sekolah itu dimaksud untuk anak-anak belanda. drop-out yang tinggi itu antara lain disebabkan oleh banyaknya jumlah mata pelajaran, tingginya syarat akademis dan intelektual yang dituntut dari murid, baik dalam bidang bahasa maupun dalam bidang matematika dan ipa dan beratnya ujian yang harus ditempuh.

2. ALGEMENE MIDDELBARE SCHOOL (AMS) 
1. Pendahuluan 
Didirikan Nya MULO sebagai lanjutan segala macam sekolah rendah yang berorientasi barat, khususnya HIS merupakan langkah yang sangat penting dalam perkembangan suatu sistem pendidikan yang lengkap di Indonesia. Langkah berikutnya ialah membuka AMS.

2. Perkembangan
Dengan Diresmikannya HIS Dan MULO tak dapat tidak timbul ide mendirikan sekolah menengah khusus bagi anak-anak indonesia yang berbeda namun ekuivalen dengan HBS. Pemerintah menyadari tuntutan ini dan membenarkannya. ada beberapa alasan maka pendirian sekolah menegah menjadi keharusan. Lulusan MULO yang dihalangi memperoleh pendidikan yang sama dengan HBS akan segera meminta agar diberi kesempatan untuk memasuki perguruan tinggi, suatu pemikiran yang wajar dan layak dan perlu dipenuhi ditinjau dari segi politik pendidikan yang bijaksana. diingat bahwa suatu saat orang cina memaksa pemerintah membuka HCS bagi anak-anak mereka. dirasakan bahwa jalan ke Universitas Melalui ELS - HBS Dengan Persyaratan Bahasa perancis sangat sukar bagi anak indonesia, sehingga anak indonesia, yang paling pandai pun dihalangi meneruskan pelajarannya. ditakuti bahwa siswa indonesia akan berusaha mencari pendidikan tinggi di negara lain. para tokoh-tokoh indonesia dan nederland mendukung upaya membuat sekolah menengah ini yaitu AMS.

3. Kurikulum 
Kurikulum AMS dibagi menjadi dua bagian yaitu Bagian A Dan Bagian B. Bagian A yang menutamakan sastra dan sejarah, Dan Bagian B yang mengutamakan. untuk mencegah berat sebelahnya , kepada bagian A juga diberikan matematika dan fisika sedangkan kepada bagian B juga sastra dan sejarah. kurikulum AMS terdiri atas (1) mata pelajaran umum yang diharuskan bagi semua siswa yakni bahasa belanda, bahasa melayu, bahasa inggris, sejarah,geografi, undang-undang negara, matematika, botani, dan zoology, pendidikan jasmani. tiap bagian AMS mempunyai mata pelajaran khusus sesuai dengan hakikat bagian itu. 

4. Guru, Populasi Murid , Dan , Inspeksi
Pada Tahun 1919 AMS pertama dibuka dengan mayoritas siswa Indonesia : 22 Anak Indonesia, 15 Belanda, Dan 5 Cina. Sejak pembukaan itu orang indonesia senantiasa merupakan mayoritas. jumlah drop-out di AMS lebih rendah daripada sekolah lain. dari angkatan pertama yang masuk pada tahun 1919 sebanyak 74,4% mencapai kelas tertinggi dan 71,4% berhasil lulus pada ujian akhir. guru-guru di AMS juga harus memenuhi syarat yang sama seperti di HBS dan sering seperti di bandung, guru yang sama yang mengajar di HBS dan AMS. Penerimaan di AMS dan MULO diserahkan kepada inspektur khusus untuk sekolah menengah. untuk menjamin peralihan yang lancer antara MULO dan AMS direktur MULO diberi kesempatan untuk menghadiri pelajaran di kelas 1 AMS sedangkan direktur AMS diizinkan menghadiri pelajaran dikelas tertinggi MULO.  


SUMBER : Bab 10 buku Sejarah Pendidikan Indonesia – Prof. Dr. S. Nasution, M.A.

0 Response to "Makalah Sekolah di Zaman Belanda (HBS dan AMS)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel